“Kamu pikir, aku mau
jadi bayangan kamu terus-terusan? Kamu sadar dong, semua yang pernah aku
lakukan sia-sia! Semua orang hanya memandang kamu, nggak pernah pandang aku…
ini semua karena siapa? Kamu. Sheza…” Bentak Zahra
“Maksud kamu apa, Ra? Kamu nggak pernah menjadi bayangan
aku… Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Ucap Sheza dengan lembut kepada Zahra.
“Kamu bisa lihat sendirikan, orang-orang selalu
membanggakan kamu… Sedangkan aku apa??? Aku hanya bisa melihat orang-orang
mengucapkan selamat, tapi itu bukan untuk aku! Tapi untuk kamu!!!” Jawab Zahra
dengan menahan isakan tangisnya dan
gemuruh emosi di dadanya. Sesak.
“Itu semua bukan karena aku… Itu semua karena kamu. Kamu
nggak pernah yakin dengan kelebihan yang kamu miliki. Kamu selalu membandingkan
diri kamu dengan orang lain… Ingat, Ra… Kamu mempunyai hak yang lebih atas diri
kamu …” Balas Sheza.
***
Ini adalah kejadian pertama dalam persahabatan mereka
selama dua tahun. Di sekolah Sheza selalu menjadi kebanggan guru-guru dan
teman-teman, tiba-tiba ia harus dihadapkan dengan sebuah masalah. Masalah
persahabatan, antara dirinya dengan Zahra.
Zahra ingin seperti Sheza, tapi ia tidak pernah berusaha.
Hingga kekesalannya pada Sheza memuncak. Zahra mulai menjauh dan sikapnya pun
berubah kepada Sheza. Dan akhirnya komunikasipun putus. Sheza senakin keheranan
dengan sikap Zahra, tidak biasanya ia seperti itu.
Jalan satu-satunya adalah mengajaknya berbicara. Ajakan
pertama hingga ketiga tidak diacuhkan oleh Zahra, Sheza pun bertambah pusing.
Dengan bermodalkan nekat, akhirnya ia menarik paksa Zahra yang keluar kelas
sepulang sekolah. Pemberontakan Zahrapun tidak disahuti oleh Sheza, “Masalah
ini harus selesai sekarang” Bathinnya.
***
“Kamu punya kelebihan, Ra… Allah menciptakan manusia di
muka bumi ini mempunyai kelebihan dan kekurangan…” Terang Sheza dengan sabar
sambil mengelus lengan Zahra.
“Aku igin seperti kamu… Dikenal orang banyak, menjadi
kebanggan di sekolah, pintar dan yang terpenting kamu memiliki semua itu…” Isak
Zahra
“Jangan pernah menjadi orang lain, just be yourself… it`s
enough. Buktikan pada semua orang bahwa kamu mempunyai kelebihan yang tidak di
miliki oleh orang lain. Photography. Kamu punya itu, Ra…”Jawab Sheza sambil
tersenyum dan mengeluarkan formulir pendaftaran lomba photography dari dalam
tasnya, dan menyerahkannnya pada Zahra. “Untuk kamu.” Ucapnya.
“Untuk aku? Kamu igin aku ikutan lomba ini?” Tanyanya.
“iya… Disanalah keahlian kamu, buktikan bahwa kamu bisa
dan kamu pantas mendapatkan gelar Photographer dengan mengikuti lomba ini…
Bergabunglah dengan mereka, aku akan selalu membantu dan mendukungmu… Dan juga
berdoa untukmu…” Jawab Sheza dan disambut dengan pelukan hangat dari Zahra.
“Terima Kasih Allah… Engkau telah membukakan hati Zahra…” syukurnya dalam
haati.
“Thanks banget ya, Za… I`m sorry for everything, and
thanks for all…” Ucap Zahra, tanpa terasa air mata telah menganak sungai dan
siap jatuh ke pipinya. Sheza pun menghapus air mata yang mengalir dan membasahi
pipi Zahra sambil tersenyum.
***
Tanpa terasa, waktu semakin berlalu. Sesi demi sesi
perlombaan photography di ikuti oleh Zahra hingga sesi final. Pada sesi final
akan di pilih tiga orang yang akan di pilih menjadi pemenang. Tanpa di duga,
Zahra masuk sesi final, dan ini adalah tahap akhir menuju impian terbesarnya
menjadi photographer.
Pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan mudah oleh
Zahra. Juri menilai. Dan waktunya untuk menunggu hasil keputusan juri. Tiga
puluh menit menunggu keputusan juri seperti tiga tahun bagi Zahra. Panitia pun
naik keatas panggung untuk mengumumkan para pemenang satu hingga tiga.
Sheza yang mengerti dan merasakan kecemasan Zahra pun
segera menghiburnya. “Apapun hasilnya, menang atau kalah kamus adalah yang
terbaik…” Hibur Sheza.
“Thanks, Za…” Balas Zahra dan memperlihatkan senyumnya
kepada Sheza.
Dari pemenang ke tiga hingga ke dua, nama Zahra tidak jua
keluar. “Apakah aku yang pertama?” Tanyanya dalam hati dan dengan hati yang
berdebar-debar,
“Dan Pemenang Pertama Photography tingkat SLTA adalah…
Zahra Aqila… Dari SMA The One… Dengan ini Zahra Aqila dinyatakan sebagai
Photographer dan Ketua Photography Education… Kepada Zahra Aqila harap naik
keatas pangggung untuk menerima hadiah… Marilah kita sambut, Zahra Aqila…” Ucap
Panitia yang menjadi MC pada acara penutupan dan pengumuman pemenang perlomba
photography.
Zahra pun naik ke atas panggung dan mendapatkan berbagai
hadiah dan foto bersama, dan salah satu hadiah itu adalah sebuah Camera Canon
yang di idamkan oleh Zahra. Seturunnya dari panggung, ia langsung memeluk
sahabatnya, Sheza. Mereka pun tertawa dan berpelukan.
“Congratulation ya…” Ucap Sheza setelah Zahra melepas
pelukannya.
“Terima Kasih…” Jawabnya sambil tersenyum.
“Now, we are rival…or… Best Friend?” Pancing Sheza.
“Of course… Best Friend…” Jawab Zahra dengan mantap.
Merekapun pulang dengan kebahagiaan yang amat sangat.
Mereka menyadari bahwa dalam persahabatan itu yang terpenting adalah sebuah
kepercayaan. Dan hancurnya persahabatan akibat tidak adanya kepercayaan antar
sesama. So… Jagalah kepercayaan itu.