Sabtu, 03 Desember 2011

Of Course… Best Friend… ( Cerpen)


             “Kamu pikir, aku mau jadi bayangan kamu terus-terusan? Kamu sadar dong, semua yang pernah aku lakukan sia-sia! Semua orang hanya memandang kamu, nggak pernah pandang aku… ini semua karena siapa? Kamu. Sheza…” Bentak Zahra
            “Maksud kamu apa, Ra? Kamu nggak pernah menjadi bayangan aku… Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Ucap Sheza dengan lembut kepada Zahra.
            “Kamu bisa lihat sendirikan, orang-orang selalu membanggakan kamu… Sedangkan aku apa??? Aku hanya bisa melihat orang-orang mengucapkan selamat, tapi itu bukan untuk aku! Tapi untuk kamu!!!” Jawab Zahra dengan  menahan isakan tangisnya dan gemuruh emosi di dadanya. Sesak.
            “Itu semua bukan karena aku… Itu semua karena kamu. Kamu nggak pernah yakin dengan kelebihan yang kamu miliki. Kamu selalu membandingkan diri kamu dengan orang lain… Ingat, Ra… Kamu mempunyai hak yang lebih atas diri kamu …” Balas Sheza.
***
            Ini adalah kejadian pertama dalam persahabatan mereka selama dua tahun. Di sekolah Sheza selalu menjadi kebanggan guru-guru dan teman-teman, tiba-tiba ia harus dihadapkan dengan sebuah masalah. Masalah persahabatan, antara dirinya dengan Zahra.
            Zahra ingin seperti Sheza, tapi ia tidak pernah berusaha. Hingga kekesalannya pada Sheza memuncak. Zahra mulai menjauh dan sikapnya pun berubah kepada Sheza. Dan akhirnya komunikasipun putus. Sheza senakin keheranan dengan sikap Zahra, tidak biasanya ia seperti itu.
            Jalan satu-satunya adalah mengajaknya berbicara. Ajakan pertama hingga ketiga tidak diacuhkan oleh Zahra, Sheza pun bertambah pusing. Dengan bermodalkan nekat, akhirnya ia menarik paksa Zahra yang keluar kelas sepulang sekolah. Pemberontakan Zahrapun tidak disahuti oleh Sheza, “Masalah ini harus selesai sekarang” Bathinnya.
***
            “Kamu punya kelebihan, Ra… Allah menciptakan manusia di muka bumi ini mempunyai kelebihan dan kekurangan…” Terang Sheza dengan sabar sambil mengelus lengan Zahra.
            “Aku igin seperti kamu… Dikenal orang banyak, menjadi kebanggan di sekolah, pintar dan yang terpenting kamu memiliki semua itu…” Isak Zahra
            “Jangan pernah menjadi orang lain, just be yourself… it`s enough. Buktikan pada semua orang bahwa kamu mempunyai kelebihan yang tidak di miliki oleh orang lain. Photography. Kamu punya itu, Ra…”Jawab Sheza sambil tersenyum dan mengeluarkan formulir pendaftaran lomba photography dari dalam tasnya, dan menyerahkannnya pada Zahra. “Untuk kamu.” Ucapnya.
            “Untuk aku? Kamu igin aku ikutan lomba ini?” Tanyanya.
            “iya… Disanalah keahlian kamu, buktikan bahwa kamu bisa dan kamu pantas mendapatkan gelar Photographer dengan mengikuti lomba ini… Bergabunglah dengan mereka, aku akan selalu membantu dan mendukungmu… Dan juga berdoa untukmu…” Jawab Sheza dan disambut dengan pelukan hangat dari Zahra. “Terima Kasih Allah… Engkau telah membukakan hati Zahra…” syukurnya dalam haati.
            “Thanks banget ya, Za… I`m sorry for everything, and thanks for all…” Ucap Zahra, tanpa terasa air mata telah menganak sungai dan siap jatuh ke pipinya. Sheza pun menghapus air mata yang mengalir dan membasahi pipi Zahra sambil tersenyum.
***
            Tanpa terasa, waktu semakin berlalu. Sesi demi sesi perlombaan photography di ikuti oleh Zahra hingga sesi final. Pada sesi final akan di pilih tiga orang yang akan di pilih menjadi pemenang. Tanpa di duga, Zahra masuk sesi final, dan ini adalah tahap akhir menuju impian terbesarnya menjadi photographer.
            Pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan mudah oleh Zahra. Juri menilai. Dan waktunya untuk menunggu hasil keputusan juri. Tiga puluh menit menunggu keputusan juri seperti tiga tahun bagi Zahra. Panitia pun naik keatas panggung untuk mengumumkan para pemenang satu hingga tiga.
            Sheza yang mengerti dan merasakan kecemasan Zahra pun segera menghiburnya. “Apapun hasilnya, menang atau kalah kamus adalah yang terbaik…” Hibur Sheza.
            “Thanks, Za…” Balas Zahra dan memperlihatkan senyumnya kepada Sheza.
            Dari pemenang ke tiga hingga ke dua, nama Zahra tidak jua keluar. “Apakah aku yang pertama?” Tanyanya dalam hati dan dengan hati yang berdebar-debar,
            “Dan Pemenang Pertama Photography tingkat SLTA adalah… Zahra Aqila… Dari SMA The One… Dengan ini Zahra Aqila dinyatakan sebagai Photographer dan Ketua Photography Education… Kepada Zahra Aqila harap naik keatas pangggung untuk menerima hadiah… Marilah kita sambut, Zahra Aqila…” Ucap Panitia yang menjadi MC pada acara penutupan dan pengumuman pemenang perlomba photography.
            Zahra pun naik ke atas panggung dan mendapatkan berbagai hadiah dan foto bersama, dan salah satu hadiah itu adalah sebuah Camera Canon yang di idamkan oleh Zahra. Seturunnya dari panggung, ia langsung memeluk sahabatnya, Sheza. Mereka pun tertawa dan berpelukan.
            “Congratulation ya…” Ucap Sheza setelah Zahra melepas pelukannya.
            “Terima Kasih…” Jawabnya sambil tersenyum.
            “Now, we are rival…or… Best Friend?” Pancing Sheza.
            “Of course… Best Friend…” Jawab Zahra dengan mantap.
            Merekapun pulang dengan kebahagiaan yang amat sangat. Mereka menyadari bahwa dalam persahabatan itu yang terpenting adalah sebuah kepercayaan. Dan hancurnya persahabatan akibat tidak adanya kepercayaan antar sesama. So… Jagalah kepercayaan itu.

Belajar dari Buya Hamka


Bagaimana sih cara menulis yang baik? Pertanyaan itu pasti akan muncul setiap kita akan menulis sesuatu. Baik berupa karangan, cerpen ataupun novel. Let`s we learn from Hamka`s story...
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Jika tulisan sudah sukses dimulai dan tuntas ditulis namun kita masih merasa tulisan itu kering atau kaku, kita dapat berkaca pada pengalaman seorang murid Buya Hamka yang beberapa puluh tahun lalu juga mengalami problem yang sama. Ketika sang murid mengkonsultasikan masalah tersebut kepada sang sastrawan kelahiran Maninjau yang juga ulama besar Indonesia ini, menanyakan bagaimana proses kreatif sang murid dalam menyelesaikan tulisannya.
“Tentu saja saya memulai dengan menuliskan berdasarkan data yang sudah terkumpul terlebih dulu, Buya,” jawab sang murid dengan tersenyum karena merasa itu pertanyaan yang terlalu sepele.
“Engkau salah,” kata Hamka tersenyum bijak. “Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta sisipkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.”
Ya, itu dia. Selama ini kita mungkin terlalu terfokus untuk menulis melulu berdasarkan data yang terkumpul sehingga lalai menangkap ide-ide yang berkelebat cepat. Sehingga ketika data terkumpul, ide itu sudah menguap, kehilangan kesegarannya. Hingga yang berbicara adalah tumpukan data yang kering dan kaku. Yang sama sekali tidak menyentuh apalagi mencerahkan.
Hamka sendiri sudah membuktikan keampuhan kiatnya tersebut dengan karya-karyanya mulai dari buku Tasawuf Modern, Tafsir Al-Azhar hingga roman Di Bawah Lindungan Kabah atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang tak kehilangan daya argumentasi namun juga menghanyutkan perasaan serta mencerahkan.
Yang penting ketika kita mulai duduk kembali di depan komputer atau di depan tumpukan draft naskah dengan pena di tangan, pikiran kita sudah terbebas dari narsisme akan karya sendiri dan sudah objektif untuk mulai mengedit. Percayalah, tak ada tulisan manusia yang langsung sempurna hanya dalam sekali tulis! Hanya kitab suci buatan Tuhan yang sedigjaya itu.
Lantas jika semua Hamka tadi sudah diterapkan namun masih saja tulisan kita ditolak redaksi atau gagal menang lomba? Alam terkembang nan jadi guru, demikian pepatah bijak orang Minang. Semua hal dapat dijadikan tempat belajar. Belajarlah dari para guru kehidupan yang tak kunjung menyerah walau berkali-kali tulisan mereka ditolak bahkan dihina redaktur media.
Lakukan korespondensi lewat surel (surat elektronik atau e-mail) atau milis, blogwalking, dan selami perjuangan jatuh-bangun para penulis terkenal saat ini dalam dunia kepenulisan. Baca dan bedah karya-karya mereka.Copy the master adalah keharusan tanpa harus menjadi plagiat. Cukup tiga kata saja: baca, bedah dan tulis!
Jika anak-anak muda pencari cinta dalam reality show Katakan Cinta yang dulu pernah berjaya di salah satu stasiun TV swasta bisa berkata dengan lantang,”Love will find you if you try!“, kita—para calon penulis atau penulis pemula–tentu dapat bertekad untuk tetap gigih menulis dengan slogan,”LUCK will find you if you TRY!” (dari berbagai sumber)