Sabtu, 03 Desember 2011

Of Course… Best Friend… ( Cerpen)


             “Kamu pikir, aku mau jadi bayangan kamu terus-terusan? Kamu sadar dong, semua yang pernah aku lakukan sia-sia! Semua orang hanya memandang kamu, nggak pernah pandang aku… ini semua karena siapa? Kamu. Sheza…” Bentak Zahra
            “Maksud kamu apa, Ra? Kamu nggak pernah menjadi bayangan aku… Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Ucap Sheza dengan lembut kepada Zahra.
            “Kamu bisa lihat sendirikan, orang-orang selalu membanggakan kamu… Sedangkan aku apa??? Aku hanya bisa melihat orang-orang mengucapkan selamat, tapi itu bukan untuk aku! Tapi untuk kamu!!!” Jawab Zahra dengan  menahan isakan tangisnya dan gemuruh emosi di dadanya. Sesak.
            “Itu semua bukan karena aku… Itu semua karena kamu. Kamu nggak pernah yakin dengan kelebihan yang kamu miliki. Kamu selalu membandingkan diri kamu dengan orang lain… Ingat, Ra… Kamu mempunyai hak yang lebih atas diri kamu …” Balas Sheza.
***
            Ini adalah kejadian pertama dalam persahabatan mereka selama dua tahun. Di sekolah Sheza selalu menjadi kebanggan guru-guru dan teman-teman, tiba-tiba ia harus dihadapkan dengan sebuah masalah. Masalah persahabatan, antara dirinya dengan Zahra.
            Zahra ingin seperti Sheza, tapi ia tidak pernah berusaha. Hingga kekesalannya pada Sheza memuncak. Zahra mulai menjauh dan sikapnya pun berubah kepada Sheza. Dan akhirnya komunikasipun putus. Sheza senakin keheranan dengan sikap Zahra, tidak biasanya ia seperti itu.
            Jalan satu-satunya adalah mengajaknya berbicara. Ajakan pertama hingga ketiga tidak diacuhkan oleh Zahra, Sheza pun bertambah pusing. Dengan bermodalkan nekat, akhirnya ia menarik paksa Zahra yang keluar kelas sepulang sekolah. Pemberontakan Zahrapun tidak disahuti oleh Sheza, “Masalah ini harus selesai sekarang” Bathinnya.
***
            “Kamu punya kelebihan, Ra… Allah menciptakan manusia di muka bumi ini mempunyai kelebihan dan kekurangan…” Terang Sheza dengan sabar sambil mengelus lengan Zahra.
            “Aku igin seperti kamu… Dikenal orang banyak, menjadi kebanggan di sekolah, pintar dan yang terpenting kamu memiliki semua itu…” Isak Zahra
            “Jangan pernah menjadi orang lain, just be yourself… it`s enough. Buktikan pada semua orang bahwa kamu mempunyai kelebihan yang tidak di miliki oleh orang lain. Photography. Kamu punya itu, Ra…”Jawab Sheza sambil tersenyum dan mengeluarkan formulir pendaftaran lomba photography dari dalam tasnya, dan menyerahkannnya pada Zahra. “Untuk kamu.” Ucapnya.
            “Untuk aku? Kamu igin aku ikutan lomba ini?” Tanyanya.
            “iya… Disanalah keahlian kamu, buktikan bahwa kamu bisa dan kamu pantas mendapatkan gelar Photographer dengan mengikuti lomba ini… Bergabunglah dengan mereka, aku akan selalu membantu dan mendukungmu… Dan juga berdoa untukmu…” Jawab Sheza dan disambut dengan pelukan hangat dari Zahra. “Terima Kasih Allah… Engkau telah membukakan hati Zahra…” syukurnya dalam haati.
            “Thanks banget ya, Za… I`m sorry for everything, and thanks for all…” Ucap Zahra, tanpa terasa air mata telah menganak sungai dan siap jatuh ke pipinya. Sheza pun menghapus air mata yang mengalir dan membasahi pipi Zahra sambil tersenyum.
***
            Tanpa terasa, waktu semakin berlalu. Sesi demi sesi perlombaan photography di ikuti oleh Zahra hingga sesi final. Pada sesi final akan di pilih tiga orang yang akan di pilih menjadi pemenang. Tanpa di duga, Zahra masuk sesi final, dan ini adalah tahap akhir menuju impian terbesarnya menjadi photographer.
            Pertanyaan demi pertanyaan terjawab dengan mudah oleh Zahra. Juri menilai. Dan waktunya untuk menunggu hasil keputusan juri. Tiga puluh menit menunggu keputusan juri seperti tiga tahun bagi Zahra. Panitia pun naik keatas panggung untuk mengumumkan para pemenang satu hingga tiga.
            Sheza yang mengerti dan merasakan kecemasan Zahra pun segera menghiburnya. “Apapun hasilnya, menang atau kalah kamus adalah yang terbaik…” Hibur Sheza.
            “Thanks, Za…” Balas Zahra dan memperlihatkan senyumnya kepada Sheza.
            Dari pemenang ke tiga hingga ke dua, nama Zahra tidak jua keluar. “Apakah aku yang pertama?” Tanyanya dalam hati dan dengan hati yang berdebar-debar,
            “Dan Pemenang Pertama Photography tingkat SLTA adalah… Zahra Aqila… Dari SMA The One… Dengan ini Zahra Aqila dinyatakan sebagai Photographer dan Ketua Photography Education… Kepada Zahra Aqila harap naik keatas pangggung untuk menerima hadiah… Marilah kita sambut, Zahra Aqila…” Ucap Panitia yang menjadi MC pada acara penutupan dan pengumuman pemenang perlomba photography.
            Zahra pun naik ke atas panggung dan mendapatkan berbagai hadiah dan foto bersama, dan salah satu hadiah itu adalah sebuah Camera Canon yang di idamkan oleh Zahra. Seturunnya dari panggung, ia langsung memeluk sahabatnya, Sheza. Mereka pun tertawa dan berpelukan.
            “Congratulation ya…” Ucap Sheza setelah Zahra melepas pelukannya.
            “Terima Kasih…” Jawabnya sambil tersenyum.
            “Now, we are rival…or… Best Friend?” Pancing Sheza.
            “Of course… Best Friend…” Jawab Zahra dengan mantap.
            Merekapun pulang dengan kebahagiaan yang amat sangat. Mereka menyadari bahwa dalam persahabatan itu yang terpenting adalah sebuah kepercayaan. Dan hancurnya persahabatan akibat tidak adanya kepercayaan antar sesama. So… Jagalah kepercayaan itu.

Belajar dari Buya Hamka


Bagaimana sih cara menulis yang baik? Pertanyaan itu pasti akan muncul setiap kita akan menulis sesuatu. Baik berupa karangan, cerpen ataupun novel. Let`s we learn from Hamka`s story...
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik. Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Jika tulisan sudah sukses dimulai dan tuntas ditulis namun kita masih merasa tulisan itu kering atau kaku, kita dapat berkaca pada pengalaman seorang murid Buya Hamka yang beberapa puluh tahun lalu juga mengalami problem yang sama. Ketika sang murid mengkonsultasikan masalah tersebut kepada sang sastrawan kelahiran Maninjau yang juga ulama besar Indonesia ini, menanyakan bagaimana proses kreatif sang murid dalam menyelesaikan tulisannya.
“Tentu saja saya memulai dengan menuliskan berdasarkan data yang sudah terkumpul terlebih dulu, Buya,” jawab sang murid dengan tersenyum karena merasa itu pertanyaan yang terlalu sepele.
“Engkau salah,” kata Hamka tersenyum bijak. “Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta sisipkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.”
Ya, itu dia. Selama ini kita mungkin terlalu terfokus untuk menulis melulu berdasarkan data yang terkumpul sehingga lalai menangkap ide-ide yang berkelebat cepat. Sehingga ketika data terkumpul, ide itu sudah menguap, kehilangan kesegarannya. Hingga yang berbicara adalah tumpukan data yang kering dan kaku. Yang sama sekali tidak menyentuh apalagi mencerahkan.
Hamka sendiri sudah membuktikan keampuhan kiatnya tersebut dengan karya-karyanya mulai dari buku Tasawuf Modern, Tafsir Al-Azhar hingga roman Di Bawah Lindungan Kabah atau Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang tak kehilangan daya argumentasi namun juga menghanyutkan perasaan serta mencerahkan.
Yang penting ketika kita mulai duduk kembali di depan komputer atau di depan tumpukan draft naskah dengan pena di tangan, pikiran kita sudah terbebas dari narsisme akan karya sendiri dan sudah objektif untuk mulai mengedit. Percayalah, tak ada tulisan manusia yang langsung sempurna hanya dalam sekali tulis! Hanya kitab suci buatan Tuhan yang sedigjaya itu.
Lantas jika semua Hamka tadi sudah diterapkan namun masih saja tulisan kita ditolak redaksi atau gagal menang lomba? Alam terkembang nan jadi guru, demikian pepatah bijak orang Minang. Semua hal dapat dijadikan tempat belajar. Belajarlah dari para guru kehidupan yang tak kunjung menyerah walau berkali-kali tulisan mereka ditolak bahkan dihina redaktur media.
Lakukan korespondensi lewat surel (surat elektronik atau e-mail) atau milis, blogwalking, dan selami perjuangan jatuh-bangun para penulis terkenal saat ini dalam dunia kepenulisan. Baca dan bedah karya-karya mereka.Copy the master adalah keharusan tanpa harus menjadi plagiat. Cukup tiga kata saja: baca, bedah dan tulis!
Jika anak-anak muda pencari cinta dalam reality show Katakan Cinta yang dulu pernah berjaya di salah satu stasiun TV swasta bisa berkata dengan lantang,”Love will find you if you try!“, kita—para calon penulis atau penulis pemula–tentu dapat bertekad untuk tetap gigih menulis dengan slogan,”LUCK will find you if you TRY!” (dari berbagai sumber)


Senin, 28 November 2011

rAnti mAwaRdi: "Wait For You"

rAnti mAwaRdi: "Wait For You": [Verse 1] I never felt nothing in the world like this before Now I'm missing you & I'm wishing tha...

Persahabatan, Cinta dan Hidupku ( Cerpen)


        Diperjalanan menuju sekolah, seorang gadis berjilbab putih yang sedang duduk di belakang setir terlihat sabar karena macet yang menghadangnya ditengah perjalanan menuju sekolah. Diliriknya jam tangan yang melekat di tangan kirinya, ia hanya bisa berdoa agar ia tepat waktu tiba di sekolah. Setelah cukup lama ia terjebak dengan macet, akhirnya ia dapat memacu mobilnya dengan santai dan tidak lupa juga ia mengucapkan “Alhamdulillah…” Karena Allah masih sayang padanya.
Dalam waktu sepuluh menit, gadis itu sudah memakirkan mobil Jazz biru nya di perkarangan sekolah. Dengan senyum sumringah ia melihat ke kaca yang ada di mobinya sambil memerhatikan jilbab putih yang ia kenakan. Ia pun turun dari mobilnya dan langsung mengunci pintu mobilnya, tidak lupa juga dengan mengucapkan doa dalam hati agar mobilnya aman. Gadis ini bernama Aurelia Octarina, biasa di panggil Aurel atau Ulel (diwaktu kecil).
Setibanya didalam kelas, dia melihat pemandangan yang sangat jarang ia dapatkan. Semua teman sekelasnya sudah datang dan sekarang sedang berkutit untuk menyelesaikan PR Fisika, wiiiiihhhh… Dahsyat.
Assalamu`alaikum…” Sapa Aurel.
Wa`alaikum salam… Aureeelll…!!!” Jawaban dari teman-teman sekelasnya.
“Apaan sih? Kok kompakan gitu manggilnya.” Sahut Aurel.
“Bantuin kita atuh, Neng. Pada nggak ngerti nih ngerjain PR Fisika dari Pak Taufik. Bantuin yaaak… Untung-untung nambah amal shaleh.” Kata salah satu teman sekelasnya.
“Kan PR-nya cuma lima buah, cara pengerjaannya juga nggak panjang dan nggak susah. Pada nggak belajar ya tadi malam?” Tanya Aurel serius.
“Hehehe … Iya Aurel …” Jawab teman-teman sekelasnya.
“Ya udah kalau gitu, aku ajarin aja gimana caranya nanti kalian coba kerjakan sendiri. Deal?” Keputusan dari Aurel.
Deal.” Jawab seluruh teman sekelasnya.
Akhirnya hanya dengan bermodalkan waktu 15 menit, Aurel mulai beraksi untuk menjadi guru fisika bagi teman-temannya. Satu per satu soal fisika pun terpecahkan, dengan senyum sumringah dan ucapan terima kasih terlontarkan oleh teman-teman sekelas Aurel. Aurelpun membalasnya dengan senyum, bersyukur karena teman-temannya dapat mengerti apa yang dia ajarkan. Walaupun hanya sedikit yang dia ajarkan dan dengan waktu yang sedikit pula, tapi itu sudah cukup membantu teman-temannya agar tidak dimarahi oleh Pak Taufik. Saling membantu dalam kebaikan.Why not?
Bel tanda masuk pun berbunyi, semua murid di sekolah itu masuk ke kelas masing-masing dan duduk dengan tertib sambil menunggu guru yang mengajar jam pertama masuk. Di kelas XI IPA 1 seorang guru laki-laki berkaca mata tebal dengan menenteng tas laptop masuk ke dalam kelas, dialah Pak Taufik. Tanpa senyum guru itu langsung menyuruh ketua kelas untuk menyiapkan dan berdoa bersama. Setelah berdoa Pak Taufik menyuruh semua murid untuk membuka PR fisika yang sudah diberikan dua hari yang lalu, dengan tenang semua murid membuka PR masing-masing dan membahasnya bersama-sama. Great! Semua cara yang ditunjukan oleh Aurel benar.
Setelah tiga jam pelajaran Pak Taufik dilanjutkan dengan speaking class, tanpa terasa bel tanda istirahat pun berbunyi. Aurel dengan segera keluar kelas dan menuju kantin, di pertengahan jalan ia bertemu dengan Chacha teman sekelasnya waktu kelas X dulu. Mereka saling menyapa dan tersenyum satu sama lain, dan berjalan ke kantin bersama. Di kantin mereka berpisah, dipojok kantin ada tiga orang sahabat Aurel yang sudah menunggunya. Mereka tidak sekelas, tapi sewaktu kelas X mereka pernah satu kelas dan sangat kompak.
Aurelpun memesan makanan dan minumannya terlebih dulu, setelah itu ia menuju kearah sahabat-sahabatnya. Mereka adalah Vannesa, Andien dan Aufa. Aurel duduk di tempat yang sudah siapkan oleh sahabat-sahabatnya itu.
“Nanti pada punya acara nggak? Kerumah aku yuuuk… Bosen nih! Orang-orang dirumah pada sibuk semua.” Ajak Aurel
“Hmmm… Setuju…” Jawab ketiga sahabatnya.
“Aku heran deh, kenapa sih orang-orang dirumah pada nggak punya waktu buat aku. Hari minggu saja masih kerja, kapan liburnya coba. Aku itu nggak butuh apa-apa dari keluarga aku, aku nggak butuh uang dan harta mereka. Yang aku butuhkan cuma perhatian dan kasih sayang mereka.” Kata Aurel sambil menahan tangisnya.
“Duuuhh… Sabar ya sayaaang... Kamu itu nggak sendirian, kitakan ada. Kita selalu ada disamping kamu dan selalu ada buat kamu. Yang tabah yaaa…” Bujuk Vannesa.
“Iya, Rel. Kami selalu ada kok buat kamu. Tenang aja.” Tambah Aufa.
Thanks yaaaa semuanya... Aku senang banget punya sahabat seperti kalian.” Jawab Aurel sambil berusa tersenyum kearah sahabatnya.
“Iya, sama-sama. Itulah gunanya sahabat.” Jawab Vannesa, Andien, dan Aufa kompak.
Mereka pun makan sambil terus bercanda-canda, dan tak terasa bel tanda istirahat sudah habis. Merekapun kembali ke kelas masing-masing dan sepulang sekolah nanti mereka berjanji untuk bertemu di parkiran. Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam pun berjalan dengan seiringnya waktu. Bel tanda jam pulang berbunyi, semua murid keluar dari kelas masing-masing. Aurelpun dengan segera menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, diparkiran ia melihat ketiga sahabatnya sudah berdiri didekat mobilnya. Mereka pun masuk kedalam mobil. Dan pada saat mobil akan berangkat, seorang cowok memanggil Aurel dari kejauhan dan Aurel dengan segera turun dari mobilnya tanpa diikuti oleh ketiga sahabatnya.
Siapakah cowok itu??
***
Ternyata yang memanggilnya itu adalah anak dari teman Mama Aurel. Dira namanya. Dengan seulas senyum Dira datang menghampiri Aurel, Aurel pun bertanya-tanya dalam hati tumben Dira memanggil dirinya.
“Ulel, ada surat nih dari Pak Zainab katanya ini tentang lomba cerpen minggu lalu.” Kata Dira sambil memberikan surat itu kepada Aurel.
“Hah? Pak Zainab nggak kasih tahu kamu siapa pemenangnya?” Tanya Aurel.
“Nggak, katanya biar kamu sendiri aja yang buka suratnya. Buka gih, aku penasaran banget.” Desak Dira.
“Sabar dong, nih mau dibuka.” Jawab Aurel dengan persaan deg-deg-an.
Aurel menarik napas.
Surat itupun dibuka dan pada saat Aurel membaca surat itu ia tidak dapat menahan rasa bahagianya, ia pun berloncatan dan tersenyum kearah Dira. Rasa penasaran Dirapun bertambah, dengan segera ia merebut surat yang ada di tangan Aurel. Dirapun membaca surat itu, dengan senyum sumringah ia mengucapkan selamat pada Aurel. Aurel mendapatkan juara umum pada lomba menulis cerpen.
“Aku senang banget, Dir. Thanks banget yaaa…” Kata Aurel sambil mengucapkan rasa terima kasihnya pada Dira karena sudah membawa kabar baik kepadanya.
“Aku dari awal udah yakin kamu pasti menang, kamu aja yang nggak percaya sama diri kamu sendiri. Sekarang sudah terbuktikan, you are the winner.” Jawab Dira dengan bangga.
“Iya. Thanks banget yaa, Dir. Kamu rela-relain nggak latihan basket demi nungguin aku buat cerpen. Duuuh…Aku nggak tahu harus berbuat apa untuk membalas kebaikan kamu.”
“Kamu nggak perlu balas dengan apapun, kamu sudah mau jadi sahabat aku saja udah cukup buat aku. Hmmm… Kalau gitu, aku duluan ya. Aku ada latihan basket, dan kamu hati-hati nyetirnya jangan kebutan. Jangan lupa shalat, makan, belajar, dan istirahat. OK!” Kata Dira.
“Siapp bos, kamu juga yaaa... Kapan-kapan main kerumah aku ajak mama kamu juga. OK!” Ajak Aurel.
Insya Allah.” Jawab Dira
Merekapun berpisah. Aurel dengan segera menuju kemobilnya, dan segera melajukan mobilnya untuk keluar parkiran sekolah. Sepanjang perjalanan sahabatnya selalu menggodanya. Tanpa terasa Aurel dan para sahabatnya sudah tiba diperkarangan rumah Aurel. Merekapun turun dari mobil bersama-sama, pintupun diketuk oleh Aurel. Tidak berapa lama muncullah pembantu Aurel, Bibi Wiwi. Bibi Wiwi mempersilahkan Aurel dan sahabat-sahabatnya memasuki rumah.
“Bibi , aku mau nanya. Mama, Papa, dan Mas Aldi makan siang dirumah nggak?” Tanya Aurel penuh harap.
“Tadi Papa sama Mamanya Non Aurel telphon, katanya mereka nggak bisa makan siang dirumah karena nanti ada meeting lagi. Kalau Mas Aldi tadi pagi ngomong sama bibi kalau hari ini dia nggak pulang, karena ada acara kampus. Begitu, Non Aurel.” Jawab Bibi was-was.
“Selalu saja seperti ini, nggak ada yang sayang sama Aurel. Nggak ada yang peduli sama Aurel. Aurel nggak minta apa-apa kok, Bi. Aurel cuma butuh kasih sayang dan perhatian dari keluarga Aurel sendiri. Cuma itu aja kok. Selama ini Aurel sabar, tapi Aurel butuh mereka sekarang.” Aurel berkata dengan bergelinang air mata. Bibi Wiwi hanya diam, dia sangat tahu apa yang dirasakan Aurel. Sudah 10 tahun ia menjadi pembantu dirumah itu, jadi dia sudah sangat tahu kebiasaan keluarga itu termasuk dengan apa yang dirasakan Aurel sekarang.
Aurelpun dengan cepat berlari keperkarangan rumahnya dan segera menaiki mobilnya, Bibi Wiwi sudah berusaha untuk mencegah kepergian Aurel. Tetapi, Aurel tidak dapat dihentikan. Beliau pun memanggil sahabat-sahabat Aurel agar mereka mengejar Aurel. Apa daya, mereka semua tidak berhasil mengejar Aurel. Akhirnya beliau mencoba menghubungi orang tua Aurel satu per satu. Nihil. Tidak ada yang menjawab panggilan telphon dari Bibi Warni. Setelah itu ia mencoba menghubungi Mas Aldi, tapi Handphone Mas Aldi tidak aktif. Pilihan terakhir adalah menghubungi Dira, anak dari teman Mama Aurel. Masuk. Dira langsung mengangkat telphon dari Bibi Wiwi.
“Halo. Assalamu`alaikum…” Sapa Dira.
Wa`alaikum salam... Mas Dira. Ini Bibi Wiwi. Maaf mengganggu.” Jawab Bibi Wiwi tergesa-gesa.
“Iya, Bibi. Ada apa telphon saya? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Dira dengan sedikit perasaan cemas.
“Jadi begini, Mas. Non Aurel pergi dari rumah. Saya tidak tahu kemana Non Aurel pergi, karena waktu saya dan teman-teman Non aurel kejar mobilnya sudah keburu pergi dan hilang dan Handphone-nya juga tidak aktif.”
“Aurel pergi? Kenapa bisa begitu, Bi?”
“Non Aurel itu sudah berharap banyak bisa makan siang bersama Mama, Papa, dan  Mas Aldi. Ternyata semuanya sibuk. Ini sudah terlalu sering terjadi, mungkin Non Aurel sudah tidak bisa menahan itu semua. Makanya dia pergi.” Jelas Bibi Wiwi.
“Ya sudah kalau begitu, saya akan coba mencari Aurel. Bibi jangan cemas. Bibi terus saja menghubungi Mama, Papa dan Mas Aldi. Sekalian Bibi jelaskan apa yang terjadi.” Jawab Dira dengan perasaan yang tidak karuan.
“Baik, Mas Dira. Terima kasih atas bantuannya. Assalamu`alaikum…” Akhir kata dari Bibi.
Wa`alaikum salam…” Salam terakhir Dira.
Tanpa ba-bi-bu lagi, ia meminta izin kepada pelatih basketnya untuk pulang lebih awal. Karena Dira termasuk salah satu anggota basket kebangggaannya, dengan senang hati ia memberi Dira izin. Dengan ucapan terima kasih, Dira langsung menyambar tasnya dan berlari menuju parkiran. Sambil menuju parkiran, ia sempatkan diri untuk menghubungi sahabat-sahabat Aurel. Mereka juga sedang usaha mencari dan menghubungi Aurel. Dan mereka berjanji akan bertukar informasi tentang keberadaan aurel.
Dira menghidupkan motor sport-nya dan mengeluarkannya dari parkiran sekolah. Ia melaju motornya dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan keselamatannya. Entah mengapa, kata-kata Bibi Warni terus terngiang-ngiang di telinganya. Tiba-tiba ia ingat suatu tempat dimana ia pernah diajak Aurel kesana. Panti Asuhan Ayah dan Bunda. Aurel pernah bilang bahwa tempat itu selalu membuat hatinya menjadi senang, dan jika ia mempunyai masalah selalu datang ke Panti Asuhan itu.
“Ya Allah… Semoga Aurel disana. Aku nggak tahu lagi harus mencari Aurel kemana. Hanya tempat itu satu-satunya harapanku. Aku mohon, Ya Allah…” Pinta Dira dalam doanya.
Dira menarik napas dan menebak-nebak apa yang akan dihadapinya nanti. Keberuntungan belum berpihak padanya, Aurel tidak ditempat itu. Panti Asuhan. Dira pun berusaha untuk mencari Aurel hingga akhirnya ia lelah.
***
Aurel...
Gadis yang begitu lembut hatinya, akan kah ia akan bertahan dengan persaannya. Perasaan yang begitu ingin membuat ia berontak dengan keadaannya. Dimanakah hendak ia berada???
Keesokan harinya, Dira dan sahabat-sahabat Aurel yang lain tidak menemui Aurel di sekolah. Kecemasan terpancar dari wajah mereka, hingga akhirnya mereka berusaha mencari tahu keberadaan Aurel. Hingga malam mereka tidak mendapatkan kabar tentang Aurel, keluarga pun tak kunjung pulang untuk mencari tahu keberadaan Aurel. Seandainya Aurel tahu, ia pasti akan semakin kecewa.
Memasuki hari kedua, kabar tentang keberadaan Aurel mulai tercium. Ada yang melihat Aurel sedang berkumpul dengan anak-anak punk di pinggir jalan, dan parahnya lagi mereka sedang minum alkohol. Benarkah itu? Tidak ada yang tahu kebenarannya kecuali jika mereka menyelidiki sendiri.
“Itu nggak mungkin banget, kalian bayangin aja mana mungkin Aurel ngelakuin itu."  Ucap Dira saat ia berkumpul dengan sahabat-sahabat aurel saat di kantin.
“Kita juga nggak ada yang percaya, Dir. Kita juga belum lihat faktanya, itu Aurel atau bukan. Mungkin aja dia cuma sekedar duduk-duduk dan ngobrol dengan anak-anak itu, kita jangan negative thinking dulu...” Sanggah Andien.
Sementara itu Vannesa dan Aufa mengangguk setuju dengan ucapan Andien. Aurel yang di kenal paling alim dan pintar tidak mungkin hal gila seperti itu. Akhirnya mereka merencanakan untuk mencari Aurel sepulang sekolah nanti dengan cara berpencar.
Siapa yang menemukan Aurel langsung menghubungi yang lainnya. Untung tak dapat di raih. Nihil. Mereka tidak menemukan jejak Aurel sedikitpun. Tampak keputus asaan pada raut wajah Andien, Aufa dan Vannesa. Sedangkan Dira masih ingin mencari Aurel. Walaupun jujur, ia sangat lelah. Disisi lain ia sangat mencemaskan Aurel. Tapi ia sadar, ia tidak boleh egois. Ia juga harus memperhatikan dirinya.
Dan informasi yang mereka dapat adalah memang benar Aurel yang ada bersama anak-anak punk, tapi yang dilakukannya adalah untuk membantu mereka. Menasehati mereka dan mengajari mereka kepada yang benar.
Di lain tempat...
Tubuh ini hanyalah seonggok daging
Betapun mewahnya intan dan permata
Betapun indahnya jubah yang terpakai
Betapun indahnya kulit yang membalut tubuh
Namun, mana kala jiwa tak bersatu dengan raga
Apalah arti semua kemewahan keindahan itu...
Yang selama ini diam terpendam
Dalam darah yang seakan tak berarti
Seolah ingin menggeliat keluar dan berpisah
Berontak, meronta dan enggan untuk kembali
Apakah telah tiba saatnya bagi raga dan jiwa ini berpisah
Namun... Aku belum siap...
Tuhan... Kenapa?
Kenapa kau menciptakan aku
Sementara keluargaku tak menghiraukan ku...
Aurel duduk di sebuah jembatan layang yang menghadap ke arah pegunungan yang hijau. Pandangannya seolah menembus pegunungan tersebut, termenung. Dan entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Pakaian yang di gunakannya masih sama dengan baju yang ia gunakan saat kabur dari rumah. Untuk makan pun, ia akan makan saat benar-benar lapar walaupun uangnya melebihi dari cukup untuk makan dan keperluannya yang lain.
Ia sadar akan perbuatannnya, mereka pasti akan mencemaskan dirinya. Ia tak sanggup untuk pulang, jika di rumah ia tetap merasa kesepian. Egois. Tapi ia membutuhkan keluarganya. Sangat membutuhkan mereka. Setelah lama ia merenung, akhirnya ia mengambil sebuah keputusan. Ia akan pergi ke suatu tempat, dan merasa yakin ia akan mendapatkan kenyamanan dan kedamaian disana.
Dengan langkah yang mantap, ia pun berjalan kearah mobilnya dan melaju dengan pasti kearah tempat tersebut. Tempat apakah itu?
 ”Ya Allah... Maafkan aku... Atas apa yang telah aku perbuat.” Tuturnya saat mengendarai mobilnya.
Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan apa yang akan di lakukannya ditempat itu. Tanpa ia sadari, akibat kelengahannya dalam mengendarai mobil ia pun menabrak pengendara sepeda motor. Kaget. Dengan cepat ia keluar dari mobilnya dan menghampiri korbannya. Ia tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab, ia akan menyelesaikannya. “Aku bukan pengecut.” Lirihnya dalam hati.
“Mas, abang, eh ... Maaf, saya nggak sengaja. Beneran deh...” Tuturnya dengan perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Dan ia mencoba membantu orang itu untuk berdiri. Tampak jelas telapak tangan orang itu luka dan lecet.
“Nyetirnya baik-baik dong mbak!!” Ucap ketus sang pengendara motor.
“Saya nggak sengaja...” Jawab Aurel tak mau kalah. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh, sepertinya ia kenal dengan suara itu. Sang pengendara motorpun membuka helm nya untuk melihat lebih jelas siapa gerangan yang menabraknya.
Aurelpun kaget bukan main melihat siapa yang telah di tabraknya, orang itu sangat dekat dengannya. Dan sebaliknya, si pengendara motor tadi pun juga kaget dengan cewek yang berada tepat di sebelahnya. Orang yang selama ini ia cari... Dan kini mereka di pertemukan dalam situasi dan kondisi yang sangat tidak mendukung. Kecelakaan.
“Kamu.....” Ucap Aurel.
***
“Kamu kemana aja Aurel... Aku dan yang lain pusing cari kamu kemana-mana.” Ucap cowok yang ternyata adalah Dira.
Aurelpun diam membisu, tak tahu apa yang akan dia jawab. Ia sadar akan kesalahannya, dan ia pun tak mempunyai keberanian untuk menatap langsung lawan bicaranya. Akhirnya dengan gugup pun ia menjawab pertanyaan Dira.
“Aku nggak kemana-mana kok, aku cuma....” Jawabnya terbata-bata.
“Cuma apa??? Kamu nggak pikir apa kalau orang-orang cemasin kamu, Aurel... Aku ngerti apa yang kamu rasakan. Please... kamu pulang yaa...” Bujuk Dira.
“Nggak... Aku nggak mau pulang, kamu nggak ngerti perasaan aku... Jangan pernah ikut campur urusan keluargaku.” Ucap Aurel dengan ketus dan meninggalkan Dira sendiri.
“Aureeelll....” Kejar Dira dengan kaki yang terpincang-pincang akibat terjatuh tadi. Nihil. Aurel telah melaju mobilnya dengan cepat, dan Dira tidak bisa mengejarnya. Dengan langkah gontai, ia menegakkan motornya dan menaiki motornya kembali.
Selama perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba terbesit di hatinya untuk balik arah. Bukan untuk pulang, melainkan ke suatu tempat yang pernah ia kunjungi bersama Aurel disaat gadis itu sedih. Tanpa menghiraukan sakit pada telapak tangan dan kakinya, ia pun melaju kecepatan motornya dengan cepat dan menuju ketempat itu.
“Semoga Aurel kesana...” Doanya dalam hati.
Ternyata ia tidak salah, mobil Aurel terparkir manis di depan sebuah rumah yang di dalamnya di isi oleh anak-anak yang tidak mempunyai orang tua. Panti Asuhan. Ya, Aurel disana.
Ia memarkirkan motornya di belakang mobil Aurel, dan segera turun dari motor. Saat Dira akan berjalan  untuk memasuki halaman Panti, ia melihat Aurel duduk dengan lesu dan dengan muka yang sembab di bawah pohon jambu. Dira sudah menebak dari awal akan begini jadinya, ia pun menghampiri Aurel yang tengah duduk sendirian. Tanpa Aurel sadari, Dira sudah duduk tepat disampingnya.
“Aurel, kamu nggak apa-apa?” Tanya Dira dengan perasaan cemas.
“Dir, kamu sejak kapan disini?” Aurel balik bertanya dengan perasaan yang campur aduk tanpa mempermasalahkan yang tadi.
“Udah dari tadi. Kamu kenapa? Kok tiba-tiba pergi kayak gitu aja dari rumah? Bibi Wiwi khawatir sama kamu.” Jawab Dira dan mempertanyakan apa yang sudah Aurel lakukan.
“Maafin aku ya, Dir atas kejadian tadi.”
“Nggak apa-apa kok, kamu kenapa? Cerita dong sama aku...” Bujuk Dira.
Aurel menghela napas.
“Seperti yang kamu tahu, keluarga aku nggak ada yang peduli sama aku. Buat makan siang sama aku aja nggak bisa, apalagi ngumpul waktu weekend. It`s Imposible.”  Jawab Aurel sambil menahan tangisnya.
“Kamu sabar yaa, Rel. Aku yakin kamu pasti kuat menghadapi ini, aku juga yakin kamu bukan cewek yang lemah. Kalau kamu cewek yang lemah, mungkin kamu udah bunuh diri atau mencari pelarian yang bersifat negatif. Dan sekarang apa yang kamu lakukan? Kamu mencari tempat yang menurut kamu bisa meredakan kekecewaan dan kesedihan kamu.” Puji Dira dengan seuntas senyum dari bibirnya.
“Yap. Kamu benar. Tapi aku nggak mau pulang sekarang.” Pinta Aurel.
“Nggak apa-apa. Mendingan sekarang kamu telphon Bibi Wiwi, beliau mencemaskan kamu dari awal kamu pergi.” Dira mengingatkan Aurel.
“Iya deh, kasihan Bibi Wiwi. Cuma beliau yang perhatian sama aku.”
Aurelpun mengambil Handphone dari saku roknya dan menghidupkannya, karena selama ia pergi HP itu ia non-active kan. Dengan cepat tangannya memencet tombol-tombol yang ada di keypad Handphone-nya, tidak berapa lama Aurel sudah berbicara dengan orang yang di sebrang telphon. Tidak lain dan tidak bukan Bibi Wiwi.
Aurel mengatakan kepada Beliau bahwa ia baik-baik saja dan sekarang bersama Dira. Beliaupun merasa lega mendengar pernyataan dari Aurel. Telphon pun ditutup setelah diakhiri dengan salam.
“Kamu tahu nggak, Dir. Hari ini aku mendapat tiga pelajaran.
“Apa aja? Bagus dong kalau begitu.” Sahut Dira dengan antusias.
“Arti sebuah persahabatan, Cinta, dan Hidup. Yang pertama, persahabatan. Aku mendapat sahabat-sahabat yang baik, setia dan perhatian sama aku. Seperti kamu, Aufa, Vannesa, dan Andien. Dan kalian selalu ada buat aku. Kedua, Cinta. Orang tuaku bekerja untuk menghidupi keluarga, untuk sekolahku dan juga Mas Aldi. Tapi mereka nggak pernah punya waktu senggang bersama keluarga mereka, yaaa… Seperti aku sekarang. Tapi, mereka membuktikan cinta mereka kepada Aku dan Mas Aldi dengan bekerja keras. Mungkin aku harus mengerti, berpikir dan bersikap dewasa. Karena tanpa cinta mereka mungkin aku nggak seperti sekarang.” Jelas Aurel.
“Dan yang terakhir?” Tanya Dira.
“Yang terakhir yaitu Hidup. Awalnya aku berpikir untuk menyudahi hidupku, tapi akhirnya aku sadar bahwa Allah membenci orang yang bunuh diri hanya karena masalah seperti ini. Dan seharusnya aku lebih bisa memanfaatkan waktu yang Allah kasih buat aku. Dan aku harus berpikir ulang kalau aku mau bunuh diri, ada atau nggak keuntungannya.” Cerocos Aurel dan di tanggapi dengan anggukan Dira.
“Bagus deh, kalau kamu udah bisa mengambil kesimpulan dari semua yang ada. Aku bangga sama kamu.” Puji Dira.
Thanks banget yaaa… Kamu selalu kasih aku semangat, dan kamu selalu setia menjadi pendengar yang baik buat aku.” Sahut Aurel.
“Kan kita sahabat…”
“Iya…”
“Selamanya…”
“Amiiinn…”
“Bareng Vannesa, Aufa, dan Andien juga.”
“Pastinya…” Tambah Aurel. Ditambah dengan anggukan Dira.
 “Tapi kamu janji dulu. Deal?” Pinta Dira.
“Janji apa?” Tanya Aurel penasaran.
“Nanti kalau kamu udah puas disini, kita pulang yaaa…” Bujuk Dira agar Aurel mau pulang.
“Hmm… Ya udah deh, kasihan Bibi Wiwi, Mama, Papa dan Mas Aldi juga.” Ucap Aurel.
Good. Dan jangan lupa menghubungi Andien, Vannesa dan Aufa. Mereka cemas banget dan selalu nanya tetang keberadaan kamu.” Sahut Dira dan mengingatkan Aurel akan sahabat-sahabatnya. Dan Aurelpun mengangguk, dengan segera ia menghubungi sahabat-sahabatnya.
Aurelpun merenungi apa yang sudah terjadi beberapa hari ini. Ia sadar, bahwa ia termasuk orang yang beruntung karena dia memiliki keluarga yang lengkap. Walaupun mereka jarang sekali berkumpul bersama. Sedangkan mereka, anak-anak panti asuhan tidak tahu siapa orang tua mereka. Siang pun berganti sore,  azan Asharpun berkumandang. Aurel, Dira, dan anak-anak panti shalat berjama`ah yang di imami oleh Dira. Selesai shalat Ashar Aurel dan Dira pamit untuk pulang. Dan mereka pun berpisah.
Di rumah Aurel.
Assalamu`alaikum…” Ucap Aurel sambil mengetuk pintu rumah.
Wa`alaikum salam…” Jawab orang yang ada didalam rumah.
Saat pintu di buka, Aurel tidak tahu akan berkata apa lagi. Karena yang membuka pintu itu adalah Mas Aldi. Senyumpun terkembang dari bibir Aurel. Saat ia masuk bersama kakak laki-lakinya, dia mendapat surprise lagi. Orang tuanya sudah di rumah dan menunggu kedatangannya.
“Mama… Papa…” Ucap Aurel.
“Maafin Mama dan Papa ya, Nak.  Kami terlalu sibuk dengan urusan kami, hingga kami tidak ada waktu luang bersama kalian.” Kata mama.
“Maafin Papa dan Mama ya, Nak.” Pinta papa sambil memelukku.
“Maafin Mas Aldi juga ya, Sayang. Mas jarang dirumah, Mas nggak ada saat kamu butuh seseorang untuk sharing.” Tambah Mas Aldi.
“Iya. Aurel maafin kok. Aurel juga minta maaf karena udah buat Mama, Papa, dan Mas Aldi cemas. Aurel bisa ngerti kok, seharusnya Aurel bisa lebih dewasa. Aurel cuma mau Mama, Papa dan Mas Aldi juga ada waktu buat Aurel. Kita ngumpul bareng, habisin weekend bareng, atau jalan-jalan. Aurel Cuma butuh perhatian dan kasih sayang dari Mama, Papa, dan Mas Aldi aja. Itu udah cukup buat Aurel.” Pinta Aurel.
“Iya sayang. Insya Allah kami akan memenuhinya.” Jawab Mama.
“Terima kasih semua… Aurel sayang kalian semua…” Ucap Aurel sambil memeluk Mama, Papa, dan Mas Aldi.
“Terima kasih Ya Allah… Engkau telah menyadarkan keluargaku agar mereka bisa membagi waktu untukku. Terima kasih Ya Allah… Terima kasih sahabat-sahabatku…” Ucapnya dalam hati sambil tersenyum.




-The End-